Roemah-Satwa

Roemah-Satwa

15.4.11

PRODUKSI KOPI LUWAK : PELUANG BARU, PROSPEK MENGUNTUNGKAN

Kopi luwak merupakan Kopi Termahal di dunia. Aroma kopi tersebut khas dan mungkin tidak bisa dibayangkan bagi penikmat kopi sebelum mencobanya. Roemah Satwa berusaha membantu mereka yang berniat untuk bisnis dalam produksi kopi luwak. Kami siap membantu pengadaan hewan luwak tersebut dengan harga yang terjangkau dan wajar. kami melayani pembelian dalam jumlah 1 -2 ekor maupun pembelian dengan sistem paket dalam jumlah banyak.

Luwak yang kami jual adalah jenis luwak atau musang pandan, merupakan spesies yang cocok dan sesuai habitat apabila diberi makan biji kopi. Luwak tersebut di habitatnya memakan buah-buahan yang dijumpainya di alam / hutan. Kami menjual luwak yang masih anakan / remaja atau indukan yang dewasa. Luwak yang kami jual merupakan tangkapan alam, namun demikian dengan perlakuan khusus hewan tersebut setelah mengenal manusia tidak liar sebagaimana saat di hutan. Meskipun begitu seminimal mungkin diusahakan tidak memegangnya dengan tangan langsung tapi dengan memakai kandang kecil untuk memindah hewan tersebut.

Kami yang berniat bisnis ataupun hanya sekedar hobi pelihara hewan, kami terbuka untk share atau saling bertukar pikiran tentang pmeliharaan hewan tersebut. Kontak kami di 08562558467 atau 0274 6501850 atau kirim via email di ; rumahsatwa@gmail.com , kami akan menindaklanjuti. Semoga sukses selalu menyertai kita semua.

INFO HARGA LUWAK BULAN INI :
1. LUWAK ANAKAN / REMAJA UMUR 2-3 BULAN Rp. 250.000,- / ekor
2. LUWAK DEWASA / INDUKAN Rp. 365.000,- / ekor

( harga bisa berubah sewaktu waktu tergantung kondisi alam /permintaan )

WEBSITE MASIH DALAM TAHAP PERBAIKAN

WEB MASIH DALAM TAHAP PEMBANGUNAN, MHN MAAF ATAS KEKURANG NYAMANANNYA.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA.

BY ROEMAH-SATWA


AGUS SW

17.9.10

Bahaya Makan Daging Reptil Mengintai

Tren makan daging reptil seperti ular, kadal, buaya akhir-akhir ini kian marak. Daging reptil dipercaya memiliki banyak khasiat untuk kebugaran tubuh. Tapi sebaiknya hati-hati karena ada bahaya di balik makan daging reptil.

Dulu reptil adalah binatang yang sengaja dikembangbiakkan di penangkaran untuk diambil kulitnya. Tetapi sekarang beberapa restoran dan masyarakat justru juga menginginkan dagingnya.

Sebuah studi menunjukkan hewan reptil yang dikonsumsi dapat memiliki efek samping yang patut dipertanyakan disamping rasanya yang lezat.

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Food Microbiology mengungkapkan konsumsi daging reptil bisa menyebabkan beberapa masalah kesehatan.

Orang yang mengonsumsi daging reptil seperti buaya, kura-kura, kadal atau ular berisiko mengalami beberapa penyakit tertentu yaitu trichinosis penyakit yang disebabkan oleh cacing pita di hewan liar terutama babi membuat sakit perut dan diare. Kemudian pentastomiasis, gnathostomiasis dan sparganosis yang semuanya penyakit hewan yang menular ke manusia.

"Risiko mikrobiologis yang paling jelas kemungkinan berasal dari bakteri patogen terutama Salmonella, Shigella, E.coli, Yersinia enterolitica, Campylobacter, Clostridium dan Staphylococcus aureus. Bakteri ini dapat menimbulkan penyakit dengan derajat keparahan berbeda-beda," ujar Simone Magnino, seorang peneliti untuk badan kesehatan dunia (WHO), seperti dikutip dari ScienceDaily, Kamis (11/2/2010).

Para ahli mengatakan data mengenai risiko kesehatan pada masyarakat belum bisa diambil kesimpulan. Ini dikarenakan tidak adanya informasi perbandingan mengonsumsi daging reptil dengan prevalensi patogennya. Selain itu masih sedikitnya penelitian yang mempublikasikan hubungan antara konsumsi daging reptil dengan beberapa penyakit.

"Walaupun sebagian besar informasi yang dipublikasikan menggunakan binatang reptil peliharaan (pets), namun ada juga yang menggunakan spesies liar atau dibesarkan di penangkaran," ujar Magnino.

Untuk menghindari penyebaran penyakit akibat bakteri patogen, para ahli menyarankan masyarakat agar membekukan daging terlebih dahulu untuk menonaktifkan parasit yang ada. Selain itu pengolahan dan cara memasaknya juga harus tepat (jangan setengah matang) agar bakteri patogennya mati.

Tujuan dari evaluasi risiko ini adalah untuk membuat dasar ilmiah dalam penyusunan undang-undang yang dapat menjamin perlindungan konsumen. Beberapa negara telah menggunakan kura-kura, buaya, ular dan kadal sebagai pengganti sumber protein dalam urutan rantai makanannya.

( By; Roemah Satwa )